festival film dokumenter 2018
SeminarUMKM dan Sosialisasi Ekowisata sebagai Bentuk Pemberdayaan Potensi Ekowisata Kawasan
EdSheeran mendokmentasikan perjalanan bermusiknya dalam film pendek berjudul Songwriter. Film ini diputar dalam Festival Film Berlin 2018.
Diaakan tampil dalam film dokumenter Arab Saudi Akan Debut di Festival Film Cannes 2018 . Entertainment. 4 years ago. Setelah mencabut larangan atas operasional bioskop dan melarang penduduknya menonton di bioskop, Arab Saudi mengumumkan debutnya di ajang Festival Film Cannes 2018. Arab Saudi mengumumkan debutnya di ajang Festival Film
Perhelatantahunan Festival Film Dokumenter (FFD) tahun 2018 resmi berakhir. Dimulai dari tanggal 5 sampai dengan 12 Desember 2018, FFD telah diselenggarakan dengan serangkaian agenda pemutaran film-film program, pemutaran film-film peserta kompetisi, diskusi, peluncuran program baru, lokakarya kritik film hingga pameran dan ekshibisi di dua lokasi; Taman Budaya Yogyakarta dan IFI - LIP
FestivalFilm Dokumenter 2020 . Penasaran dengan cara kerja festival film di tengah pandemi yang tentunya akan direspon secara kreatif oleh FFD tahun ini, silahkan menuju link
mở mang tầm mắt tiếng anh là gì. Call for Entry The Festival Film Dokumenter is accepting films until August 20th, 2018. Here you can find more information about their Call for Entry. Founded in 2002, Yogyakarta, Festival Film Dokumenter FFD is the first documentary film festival in Indonesia and Southeast Asia, focusing on the development of documentary film as a medium of expression and ecosystem of knowledge, through exhibition, education, and archiving. Setting forth the notion born in a light conversation between a group of youngsters, it sought to explore the raw potential in Indonesia’s cinema the documentary medium. Certain traits differentiate documentary films from other audiovisual products, a significant place as a media that educates, reflective, transcends time and space. Amidst the strong current of the mass media, documentary films hold its own role as independent, aspirational media. In its annual celebration every December, Festival Film Dokumenter always try to observe certain social issues as its focus, as well as creating a bridge between documentary filmmakers, professional filmmakers, and the general audiences, on the purpose of improving the quality and quantity of Indonesia documentary films. General Rules – Production year of the feature documentaries can be from 2016-2018. – Short Films in Competition must be produced between 2017-2018 and ONLY to Indonesian Nationality. – Short Films in Non- Competitive Seciton can be from any nationality and production year must be from 2016 to 2018. – Film of any language including English must include English subtitle. – Submission Fee FREE – Deadline August 20th, 2018. To read more about the Rules and Regulations please follow the next link We remind readers that the 2018 Festival Film Dokumenter will take place from December 5th – 12th 2018 in Yogyakarta, Indonesia. To see other Call for Entries please go to our section “Call for Entries”.
Call for Entry The Festival Film Dokumenter Indonesia is accepting documentaries until August 25th, 2019. Here you can find more information about their Call for Entry. About the festival Festival Film Dokumenter FFD is an annual event held by Forum Film Dokumenter, a non-profit organization based in Yogyakarta, focusing on documentary film research and archiving, as well as film appreciation for educational purposes. General Rules – The festival accepts feature-length over 40 minutes documentaries from Indonesian and foreign filmmakers; and Short Documentaries under 40 minutes from Indonesia High Schoolers are also able to submit. – Feature-length documentaries should have been produced between 2017 – 2019 for International filmmakers, and between 2018-2019 for Indonesian filmmakers. – Short Indonesian documentaries should have been produced between 2018-2019. – Students are welcome to submit as long as the director/s and the film crew are students, from junior to high school or equal during the production year of the film. The submitting person should send the student card or any copy of official document legalized by school that proven their status as an active student. – Film of any language including English must include English subtitle. – Important Film submitted to the festival will be archived by Forum Film Dokumenter for non-profit activities and educational purposes. Filmmaker will be informed for any activities involving the film outside this year’s festival timeline. Any screenings will be done with prior permission from the filmmaker. – Submission Fee FREE – Deadline August 25th, 2019 To submit to the festival and read the Rules & Regulations please follow the next link We remind readers that the 2019 Festival Film Dokumenter will take place from December 1st – 7th, 2019 in Yogyakarta, Indonesia. To see other Call for Entries please go to our section “Call for Entries”
Tahun ini, Program Kompetisi Festival Film Dokumenter kembali menyajikan film-film unggulan, hasil seleksi dari berbagai negara untuk kategori film Dokumenter Panjang, dan tentu saja keragamaan dari berbagai film dokumenter Indonesia dalam kategori Dokumenter Pendek dan Dokumenter Pelajar. Setiap tahun, film – film yang masuk ke Program Kompetisi kian beragam, baik secara konten maupun bentuk – bentuk yang digunakan dalam karya para peserta. Selain itu, tema – tema yang diangkat sangat bervariasi, mulai dari hal-hal yang sederhana dan dekat dengan keseharian, hingga berbagai permasalahan sosial politik yang aktual. Kami menerima 43 Film Kategori Dokumenter Panjang Internasional, 85 Film Kategori Dokumenter Pendek, dan 24 Film Kategori Dokumenter Pelajar. FFD selalu mencari film-film yang bisa secara kritis menanggapi hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita, yang diharapkan bisa menjadi bahan refleksi untuk peonton serta menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu yang lebih besar. Selain itu dibutuhkan juga kecakapan filmmaker untuk mengemas isu-isu tersebut kedalam bentuk penceritaan, sehingga bisa juga dinikmati penonton sebagai sebuah bentuk karya seni. Pengemasan yang kreatif ini juga menjadi pertimbangan dalam memilih film-film finalis dibawah ini. Sandeep Ray Sebelum mengajar di SUTD-HASS, Sandeep pernah mengajar di University of Wisconsin 2015-2016, dan seorang Luce Postdoctoral Fellow di Rice University 2016-2017. Filmnya sudah pernah diulas di The American Anthropologist and the Journal for Visual Anthropology dan pernah diputar di beberapa festival, seperti di Busan BIFF, Taiwan TIDF, Sydney, Paris Jean Rouch, Tehran IIFF, Copenhagen DOX, dan masuk dalam kurasi the Flaherty Seminar, the Margaret Mead Festival, the Films Division of India, the Asia Research Institute NUS, dan the Whitney and Getty Museums. Anna Har Anna Har adalah direktur FreedomFilmFest, sebuah festival film HAM internasional di Malaysia. Ia adalah ketua Freedom Film Network, sebuah organisasi yang mempromosikan dan mendukung pembuatan film-film bertema sosial. Anna belajar visual antropologi dan telah bekerja di bidang HAM selama 20 tahun. Ia masih terus berkarya sebagai sutradara dan produser di Big Pics Production miliknya. Ronny Agustinus Ronny Agustinus adalah salah satu pendiri Ruang Rupa. Sejak 2005 hingga sekarang, ia mengelola penerbit Marjin Kiri. Ia pernah menjadi kurator sesi Amerika Latin untuk ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014-2016, juri ARKIPEL 2014-2015, juri dokumenter panjang Festival Film Dokumenter 2015 Yogyakarta, dan juri Psychology Film Festival 2016 Surabaya. Thomas Barker Thomas Barker adalah Asisten Professor Film dan Televisi di University of Nottingham Kampus Malaysia. Ia pernah menjadi mahasiswa tamu di UCLA, UI, dan The National University of Singapore serta pernah menjadi mahasiswa di UGM, Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah menulis di beberapa media, antara lain untuk Cinema Poetica, The Jakarta Post, Rumah Film, dan Asian Cinema. Akhir-akhir ini ia turut menjadi co-producer dan menarasikan dokumenter delapan bagian yang dibuat untuk BFM Radio Kuala Lumpur, Malaysia. Vivian Idris Pembuat film otodidak yang misinya adalah menggunakan medium audio-visual sebagai alat untuk edukasi, pelestarian budaya, mengakselerasi pergerakan sosial, dan sebagai salah satu cara berkontribusi kembali ke masyarakat. Vivian juga aktif berpartisipasi di festival-festival lokal di Indonesia sebagai juri Festival Film Indonesia, Anti Corruption Film Festival, XXI Short Film Festival, Festival Film Surabaya, Festival Film Dokumenter, Eagle Academy, UCIFEST 7, Festival Video Edukasi dan membuat workshop pembuatan film dokumenter. Antariksa Antariksa adalah peneliti dan anggota pendiri KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta. Dia kini menjadi peneliti tamu pada Global Souths du Collège d’études mondiales/Fondation Maison des sciences de l’homme FMSH, Paris, dan Associate Fellow pada the Institute of Southeast Asian Studies ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura. Steve Pilar Setiabudi Pillar lahir di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan desain grafis di Yogyakarta tahun 1997. Sejak saat itu, ia aktif berkegiatan dalam beberapa produksi film dokumenter. Saat ini ia tengah bekerja di Artifact Media, di mana ia aktif memproduseri dan menyutradarai film-film dokumenter. Jason Iskandar Jason Iskandar lahir di Jakarta pada tahun 1991. Ia mulai membuat film pada usia 17 tahun di workshop dan kompetisi film dokumenter Think Act Change, di mana filmnya yang berjudul Sarung Petarung memenangkan tiga penghargaan. Film dokumenternya yang berjudul Indonesia Bukan Negara Islam memenangkan penghargaan film terbaik kategori pelajar pada Festival Film Dokumenter 2009. Saat ini ia sedang mempersiapkan film panjang pertamanya. Irfan R. Darajat Lahir di Purbalingga, 22 Oktober 1988. Ia menamatkan pendidikan S1 Jurusan Politik dan Pemerintahan tahun 2012 dan melanjutkan studi S2 Kajian Budaya dan Media di UGM pada tahun 2013 hingga sekarang. Salah satu anggota kelompok peneliti musik dan masyarakat “Laras”. Juri Kategori PanjangJuri Kategori PendekJuri Kategori Pelajar Juri Kategori Panjang Sandeep Ray Sebelum mengajar di SUTD-HASS, Sandeep pernah mengajar di University of Wisconsin 2015-2016, dan seorang Luce Postdoctoral Fellow di Rice University 2016-2017. Filmnya sudah pernah diulas di The American Anthropologist and the Journal for Visual Anthropology dan pernah diputar di beberapa festival, seperti di Busan BIFF, Taiwan TIDF, Sydney, Paris Jean Rouch, Tehran IIFF, Copenhagen DOX, dan masuk dalam kurasi the Flaherty Seminar, the Margaret Mead Festival, the Films Division of India, the Asia Research Institute NUS, dan the Whitney and Getty Museums. Anna Har Anna Har adalah direktur FreedomFilmFest, sebuah festival film HAM internasional di Malaysia. Ia adalah ketua Freedom Film Network, sebuah organisasi yang mempromosikan dan mendukung pembuatan film-film bertema sosial. Anna belajar visual antropologi dan telah bekerja di bidang HAM selama 20 tahun. Ia masih terus berkarya sebagai sutradara dan produser di Big Pics Production miliknya. Ronny Agustinus Ronny Agustinus adalah salah satu pendiri Ruang Rupa. Sejak 2005 hingga sekarang, ia mengelola penerbit Marjin Kiri. Ia pernah menjadi kurator sesi Amerika Latin untuk ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014-2016, juri ARKIPEL 2014-2015, juri dokumenter panjang Festival Film Dokumenter 2015 Yogyakarta, dan juri Psychology Film Festival 2016 Surabaya. Juri Kategori Pendek Thomas Barker Thomas Barker adalah Asisten Professor Film dan Televisi di University of Nottingham Kampus Malaysia. Ia pernah menjadi mahasiswa tamu di UCLA, UI, dan The National University of Singapore serta pernah menjadi mahasiswa di UGM, Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah menulis di beberapa media, antara lain untuk Cinema Poetica, The Jakarta Post, Rumah Film, dan Asian Cinema. Akhir-akhir ini ia turut menjadi co-producer dan menarasikan dokumenter delapan bagian yang dibuat untuk BFM Radio Kuala Lumpur, Malaysia. Vivian Idris Pembuat film otodidak yang misinya adalah menggunakan medium audio-visual sebagai alat untuk edukasi, pelestarian budaya, mengakselerasi pergerakan sosial, dan sebagai salah satu cara berkontribusi kembali ke masyarakat. Vivian juga aktif berpartisipasi di festival-festival lokal di Indonesia sebagai juri Festival Film Indonesia, Anti Corruption Film Festival, XXI Short Film Festival, Festival Film Surabaya, Festival Film Dokumenter, Eagle Academy, UCIFEST 7, Festival Video Edukasi dan membuat workshop pembuatan film dokumenter. Antariksa Antariksa adalah peneliti dan anggota pendiri KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta. Dia kini menjadi peneliti tamu pada Global Souths du Collège d’études mondiales/Fondation Maison des sciences de l’homme FMSH, Paris, dan Associate Fellow pada the Institute of Southeast Asian Studies ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura. Juri Kategori Pelajar Steve Pilar Setiabudi Pillar lahir di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan desain grafis di Yogyakarta tahun 1997. Sejak saat itu, ia aktif berkegiatan dalam beberapa produksi film dokumenter. Saat ini ia tengah bekerja di Artifact Media, di mana ia aktif memproduseri dan menyutradarai film-film dokumenter. Jason Iskandar Jason Iskandar lahir di Jakarta pada tahun 1991. Ia mulai membuat film pada usia 17 tahun di workshop dan kompetisi film dokumenter Think Act Change, di mana filmnya yang berjudul Sarung Petarung memenangkan tiga penghargaan. Film dokumenternya yang berjudul Indonesia Bukan Negara Islam memenangkan penghargaan film terbaik kategori pelajar pada Festival Film Dokumenter 2009. Saat ini ia sedang mempersiapkan film panjang pertamanya. Irfan R. Darajat Lahir di Purbalingga, 22 Oktober 1988. Ia menamatkan pendidikan S1 Jurusan Politik dan Pemerintahan tahun 2012 dan melanjutkan studi S2 Kajian Budaya dan Media di UGM pada tahun 2013 hingga sekarang. Salah satu anggota kelompok peneliti musik dan masyarakat “Laras”. FILM FINALIS All CategoryDokumenter PanjangDokumenter PendekDokumenter Pelajar
- Perhelatan tahunan Festival Film Dokumenter FFD 2018 resmi berakhir. Festival yang dimulai dari 5 hingga 12 Desember 2018 itu digelar dengan agenda pemutaran film program, pemutaran film peserta kompetisi, diskusi, peluncuran program baru, lokakarya kritik film hingga pameran dan ekshibisi di dua lokasi; Taman Budaya Yogyakarta dan IFI–LIP penganugerahan dan penutupan menjadi rangkaian akhir dari gelaran FFD, yang diadakanpada Rabu 5/12 di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta. Pengumuman pemenang dari tiga kategori kompetisi dipimpin Direktur Forum Film Dokumenter, Henricus Pria Setiawan. Dalam kesempatan ini, Henricus menyampaikan, film kompetisi merupakan ajang bagi pembuat film untuk membagikan perspektif serta pandangan kritis terhadap isu-isu di sekitar mereka. Seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Tirto, Kamis 13/12/2018, tahun ini FFD menerima 118 film kategori panjang internasional, 100 film kategori pendek, dan 23 film kategori pelajar. Pemenang Kategori Pelajar diraih oleh film berjudul Tarian Kehidupan 2018 karya Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya. Alexander Matius, salah satu juri kategori pelajar menyampaikan beberapa catatan bagi finalis. Menurut juri, secara umum pilihan topik kategori pelajar cukup beragam dan menarik, namun masih memerlukan fokus, kelugasan serta perspektif yang lebih dalam. “Pemenang dipilih karena berhasil merespons isu yang dekat dengan pelajar itu sendiri dengan pengemasan yang eksploratif dan menarik. Selain memberikan gambar yang menarik dan tepat guna, filmmaker juga memperhatikan permainan suara dalam film tersebut,” ujar Alexander ini, tidak ada pemenang dalam kategori Dokumenter Pendek. Adrian Jonathan Pasaribu,mewakili juri yang berhalangan hadir, menyampaikan beberapa catatan mengenai para peserta.“Juri menemukan adanya kesamaan cara bercerita, serta tidak cukupnya eksplorasi bahasa sinema di kelima film nominasi. Kelima film memiliki topik yang menarik namun belum bisa meyampaikancerita secara utuh. Pembuat film harus memperhatikan eksplorasi gaya dan cara bercerita dalamproses kreatif nya. Oleh sebab itu kategori film pendek terbaik tidak diberikan pada tahun ini,” jelas Adrian. Namun juri memberikan penghargaan lainnya berupa Special Mention Jury Awards kepada film The Nameless Boy 2017 karya Diego Batara. Pertimbangan juri dalam memberikan penghargaan ini karena The Nameless Boy mencoba untuk mengeksplorasi gaya penceritaan yang berbeda, meski demikian film ini dirasa masih perlu menguatkan penyampaian isu yang film panjang internasional terbaik diraih oleh film asal Filipina In The Claws Of CenturyWanting 2017 karya Jewel Maranan. Mewakili para juri yang berhalangan hadir, Amerta Kusumamenyampaikan catatan juri untuk pemenang film kategori panjang. “Film ini menangkap realitas dari masyarakat yang hidup dalam keberanian walau hidup terasing dari akses mata pencaharian mereka. Sisi lain dari realitas tersebut hadir melalui ambisi sutradara dan sudut pandang obsesif serta editing yang radikal,” ungkap penutup, direktur FFD 2018, Ukky Satya Nugrahani menyampaikan beberapa hal yangperlu digarisbawahi dalam perhelatan FFD tahun ini. Yang pertama, keberadaan festival sebagairuang dialog dan titik temu berbagai wacana dan perspektif tidak akan jadi tanpa antusiasmebanyak pihak. Kedua, akan terus dilakukan evaluasi baik secara penyelenggaraan maupun organisasional dan setiap program yang diadakan tahun ini maupun selanjutnya FFD akan lebihspesifik menarget penonton agar lebih tepat penutupan ini turut memutarkan film pemenang kategori dokumenter pelajar setelah pembacaan pemenang dilakukan. Film yang diputar adalah film dari Provinsi Nanggroe AcehDarussalam, Indonesia berjudul Tarian Kehidupan 2018. Film berdurasi 17 menit ini mengisahkan tentang seorang pelajar SMP yang harus menjadikan tarian sebagai sumber penopang ini adalah rekap dari pemenang kompetisi FFD 2018Kategori Dokumenter Pelajar Tarian Kehidupan 2018 karya Naira Capah dan Fauzam Syam Adiya dari IndonesiaKategori Dokumenter PendekTidak ada pemenangSpecial Mention Jury Award untuk Dokumenter PendekThe Nameless Boy 2017 karya Diego Batara dari IndonesiaKategori Dokumenter PanjangIn The Claws Of Century Wanting 2017 karya Jewel Maranan dari Filipina - Film Penulis Dipna Videlia Putsanra Editor Dipna Videlia Putsanra
festival film dokumenter 2018